Home » Utama » Transportasi » Bandar » Kapal Labuh Di Tanjung Perak Masih Berantakan
Suasana kapal labuh di Tanjung Perak

Kapal Labuh Di Tanjung Perak Masih Berantakan

SURABAYA – Penataan kapal lego jangkar di zona labuh Tanjung Perak saat ini masih berantakan dan sangat mengganggu terhadap keselamatan berlayar maupun kelancaran operasional pelabuhan. Hal itu tentu perlu dilakukan optimalisasi.

Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak, Amiruddin, MM nengatakan, penertiban terhadap kapal-kapal yang sudah terlalu lama berlabuh jangkar ( Laid Up ) utamanya kapal mati / terbenkalai harus segera dilakukan jika dibiarkan terus berpotensi tenggelam dan akan menambah daftar kerangka atau bangkai kapal yang bersemayam di perairan pelabuhan tanjung perak Surabaya.

“Hal itu tentunya sangat berbahaya bagi keselamatan kapal yang masih aktif yang akan berlabuh di kolam pelabuhan,” tuturnya, Jum’at (2/3/2018).

Namun, Amiruddin mengaku, pihaknya tidak bisa serta merta memerintahkan kapal-kapal tersebut agar bergeser ke area yang aman bagi kapal lain yang masih aktif. Kami harus membicarakan dengan pihak Otoritas Pelabuhan (OP) Tanjung Perak mengingat masalah bandar adalah tupoksinya. Cuma dalam penertibannya bisa kita lakukan secara bersama-sama.

“Sudah tinggal nunggu aksi lanjut dari OP dan kita sudah dua kali rapat dan pejabat struktural OP turut serta hadir mudah-mudahan OP cepat mengambil langkah untuk perbaikan kedepan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Perak, Herwanto mengatakan, terkait area labuh di bandar tanjung perak itu akan membicarakan dengan Syahbandar guna mengambil langkah penertibannya, dan setelah itu baru kita bisa beraksi. Mengingat banyaknya kapal mati yang ada, tidak mungkin kita memaksa memindahkan begitu saja kalau tidak dikomunikasikan terlebih dahulu dengan pihak-pihak bahkan dengan pemilik.

“Awal Maret kita ada rapat dengan syahbandar terkait langkah-langkah penertibannya,” ujarnya.

Memang, kami sudah beberapa kali merapatkan terkait zona labuh tersebut dengan Syahbandar Tanjung Perak dan KSOP Gresik. Dimana sudah ada Zona labuh yang telah ditetapkan dalam keputusan Kemenhub nomor KP 783 tahun 2017 tentang Rencana Induk Pelabuhan (RIP) yang terintegrasi.

Kami juga tidak tinggal diam selalu berkoordinasi, lanjut Herwanto, kalau langsung tarik kapal tersebut takutnya ada gugatan hukum akibat aksi tersebut dari pihak-pihak yang merasa dirugikan.

“Setelah kita inventarisir kapal-kapal yang kebanyakan tongkang itu, ternyata mereka masih melakukan perbaikan kecil-kecil sehingga kami pandang perlu melakukan penertiban,” jelasnya.

Senada, Kabid Lala dan Operasi Kepelabuhan, Heri Suryanto menambahkan, bahwa kita dengan Syahbandar perak dan KSOP Gresik akan melakukan penertiban. Yang pasti langkah kita itu akan disesuaikan dengan RIP terbaru yang telah menetapkan zona sebagaimana mestinya.

Menurut Heri, kalau memang kapal itu melakukan perbaikan maka seyogyanya kita arahkan ke tempat pengedokkan. Apakah itu flotting atau dock besar harus tetap ditempat yang sebenarnya yaitu shipyard itu secara aturan demikian.

“Tidak boleh dikolam, bahkan di zona labuh pun tidak boleh karena itu untuk anchor kapal,” tandasnya.

Sedang berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan RI nomor KP 783 Tahun 2017
Tentang ‘ Rencana Induk Pelabuhan Tanjung Perak dan Sekitarnya Secara Terintegrasi Jawa Timur, areal perairan Pelabuhan Tanjung Perak dan sekitarnya secara terintegrasi, terdiri atas:

1. areal alur-pelayaran seluas 1.228 Ha;
2. areal perairan Pelabuhan Tanjung Perak,Terminal Teluk Lamong, Terminal Socah dan Terminal Tanjung Bulupandan seluas 2.264 Ha, terdiri atas:
a) areal tempat labuh seluas 2.079 Ha;
b) areal tempat sandar seluas 78 Ha
c) areal kolam putar seluas 107 Ha;
3. areal perairan Pelabuhan Gresik dan Terminal Manyar seluas 1.357 Ha, terdiri atas:
a) areal tempat labuh seluas 1.296 Ha;
b) areal tempat sandar seluas 12 Ha;
c) areal kolam putar seluas 49 Ha;
4. areal alih muat kapal seluas 85 Ha;
5. areal perbaikan kapal seluas 11 Ha;
6. areal keperluan keadaan darurat seluas 11 Ha;
7. areal percobaan berlayar seluas 28 Ha;
8. areal kapal mati seluas 11 Ha; dan
9 areal penunjang keselamatan pelayaran seluas 74.342,9 Ha. (RG)

About Rudie Arijanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

x

Check Also

Jelang Lebaran Bongkaran Batu Bara Di Gresik Lancar

KSOP GRESIK URAI ANTRIAN TONGKANG BATU BARA  GRESIK – Derasnya arus barang curah kering khususnya ...