Home » Utama » Sugiharjo : Insan Perhubungan Harus Mengubah Pola Pikir dan Budaya Kerja
Sekjen Kemenhub, Ir. Sugiharjo, M.Si sat membuka Rakor bidang kepegawaian dan organisasi Kementerian Perhubungan di hotel Shangri-La Surabaya, Selasa (10/4/2018).

Sugiharjo : Insan Perhubungan Harus Mengubah Pola Pikir dan Budaya Kerja

SURABAYA – Tingkatkan kualitas pegawai dilingkungan Kementerian Perhubungan, Rapat Koordinasi (Rakor) bidang kepegawaian dan organisasi digelar  dengan mengambil tema ‘ Melalui rakor kepegawaian dan organisasi kita ubah pola pikir dan budaya kerja menuju era digital ‘ yang diselenggarakan di hotel Shangri-La Surabaya selama tiga hari ( 10-13 April 2018).
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Ir. Sugiharjo, M.Si mengatakan bahwa perubahan itu perlu dilakukan setiap individu-individu PNS/ASN untuk melakukan perubahan mindset  dalam bekerja agar tidak tertindas perubahan yang ada.

“Ada pertanyaan, masak dengan acara ini dalam waktu 2-3 hari bisa merubah pola kerja pegawai, segala sesuatu itu kembali kepada kita yang bisa menjawab acara ini bisa bermanfaat atau tidak,” ujarnya dihadapan sekitar 500 orang undangan dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) dilingkungan Kementerian Perhubungan saat membuka Rakor, Selasa (10/4/2018).

Menurut Sugiharjo, Kadang setiap kegiatan ada suatu tema tapi tema itu seringkali juga hanya menjadi kata-kata indah yang tanpa makna. Kembali kepada kita yang hadir disini apakah benar tema ini akan kita wujudkan atau tema itu hanya sekedar simbolik atau hanya menjadi sebuah selogan itu terganting bagaimana kita bisa menyikapi forum-forum seperti ini.

“Kalau ini kita anggap sebuah formalitas, dan kita tidak menganggap penting apa yang disampaikan pemateri, baik dalam pembukaan maupun dalam sesion-sesion berarti sasaran yang diinginkan tidak tercapai,” terangnya.

Namun begitu, lanjut Sugiharjo, tapi paling tidak punya komitmen untuk berubah sehingga kita berproses untuk melakukan perubahan. Saya ingin menggaris bawahi segala sesuatu itu kembali kepada kita yang bisa menjawab bahwa ini bermanfaat atau tidak, dan saya sebetulnya juga yakin bahwa secara pribadi sebagai sekjen perhubungan memandang kegiatan ini sangat perlu karena konsolidasi organisasi itu suatu yang baik dan penambahan pengetahuan, penambahan pengalaman itu adalah bentuk lain daripada kesejahteraan.

“Kesejahteraan pegawai itu, tidak hanya diukur oleh gajinya naik dan tunjangan kinerja (tunkin)nya naik tapi kesempatan promosi fair kepada semua orang yang mempunyai kopetensi itu juga kesejahteraan. Kesempatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baik dari forum seperti ini, ikut kursus di dalam maupun di luar negeri itu juga bentuk lain daripada kesejahteraan,” papar Sugiharjo.

Sugiharjo melihat, suasana kerja yang kondusif itu juga bentuk lain kesejahteraan jadi saya memandang kegiatan ini penting karena itu bagian dari kesejahteraan. Tapi kembali, segala sesuatu harus dilihat price to performance bahwa ini penting dan bermanfaat. Coba kita bisa memikirkan bersama karena kita yang datang ini maupun panitia yang menyelenggarakan itukan semuanya biaya negara artinya kegiatan yang kita lakukan dapat dipertanggung jawabkan. Kalau semua kita bisa berfikir seperti itu, saya yakin kegiatan ini begitu penting, dan kalau semua yang hadir ini menganggap bahwa kita punya komitmen dan kesadaran sendiri untuk merubah pola pikir dan budaya kerja maka pertemuan ini bermanfaat.

“Tapi kalau semua yang hadir menganggap ini sebuah rutinitas, maka secara jujur harus kita katakan kegiatan ini tidak terlalu penting, andaikan dihapus juga tidak apa-apa karena toh nilainya tidak signifikan antara biaya dan manfaat, seperti itu,” tandasnya.

Sugiharjo juga mengharapkan, kita lakukan introsepeksi bahwa dunia sudah berubah. Seperti yang dikatakan Presiden dalam memberikan pengarahan kepada PNS yang baru di Istora Senayan menggambarkan bahwa Indonesia sudah memasuki era teknologi sekaligus revolusi industri ke-empat memunculkan perubahan di dalam berbagai sektor dimana bayak dijumpai digital, otomatisasi dari teknologi yang luar biasa.

“Kalau eranya sudah seperti itu sedang pola pikir kita masih seperti dulu awal kita menjadi PNS ya..tidak nyambung ,” ucapnya.

“Pilihannya cuma dua, ambil peran atau jadi korban tidak bisa hanya jadi penonton,” imbuhnya.

Menyinggu Era digital menurutnya, itu sesuatu keniscayaan, jadi kalau dulu ada ungkapan yang populer globalisasi dan perkembangan IT,
harus kita sadari itu esensinya tidak ada sekat ruangan tanpa batas ruang sudah menyatu terintegrasi. Sehingga kita dalam bekerjatidak ada ego masing-masing.

Dan kembali saya tidak bosan untuk mengingatkan,  statement pakar manajemen yang mengungkapkan kalau ibaratnya revolusi industri ke-empat, itu sebagai suatu perubahan yang penuh dengan turbolensi dimana berbagai hal yang sebelumnya tidak terfikirkan itu menerjang kita. Bagaimana toko-toko swalayan dan mall-mall dibangun secara online itu tak terpikirkan. Bagaimana Perusaha Hanjin itu bisa roboh karena dengan kemajuan teknologi itu juga sesuatu yang juga tidak terpikirkan.

“Eranya sudah berubah dalam turbolensi seperti itu, nah kita yang PNS/ASN maka dalam perubahan yang penuh dengan turbolensi, yang berbahaya itu bukan pada perubahan turbolensinya tapi yang berbahaya adalah pola pikir kita yang masih kita gunakan untuk situasi yang sudah berubah, ya tidak cocok,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Kupang, Capt. M. Hermawan mengaku, sebagai salah satu peserta rakor merasa hal perubahan itu sangat perlu dilakukan terlebih-lebih dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sudah berbasis teknologi IT seperti pelayanan kapal melalui sistem inaportnet sehingga akan juga menuntut petugas yang pagam akan teknologi.

“Mau tidak mau kami juga harus bisa menguasai teknologi IT sehingga manakala ada keluhan dari pelayaran terkait sistem inaportnet bisa menjekaskan,” karanya.

Disamping itu, tenaga yang mengandalkan prilaku konfensional sedikit-demisedikit juga sudah mulai berusaha menyesuaikan dengan keadaan dengan melakukan peningkatan penguasaan komputeres.

“Biar anggota melek IT biar ngak gaptek,” ucapnya.

Hermawan mengaku, apa yang disampaikan Sekjen Kementerian Perhubungan, Sugiharjo itu merupakan sebuah cambuk bagi dirinya khususnya. Bahwa bagaimana mengendalikan organisasi yang dinakhodainya dengan selalu komunikarif dengan anggota maupun seluruh stajeholders yang ada di wilayahnya dengan selalu positif thinking.

“Kami juga sadar apa yang disampaikan pak sekjen bahwa terkadang sebagai manusia kita masih ada egonya sehingga bagaimana kebijakan yang kita ambil itu bisa legowo diterima anggota,” jekasnya.

“Saya pribadi sangat berterima kasih mendapat pengit dari beliau (sekjen kemenhub.red) dalam menjalankan tupoksi seperti yang disampaikan dalam sambutannya,” tambah Hermawan.

Pada kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan kerjasama dengan PT taspen  terkait tunjangan hari tua mapun proteksi pegawai kala bekerja serta santunan manakala hingga terjadi meninggal dunia. (RG)

About Rudie Arijanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kuatkan Jiwa Tim Work KSOP Kupang Gelar Family Gathering

KUPANG – Bangun karakter pegawai agar mampu menjawab tantangan di era perubahan saat ini yang ...