Dampak Covid-19 INSA Sikapi ” Corona Charge ” Rembuk Dengan Pelindo III

108
Ketua DPC INSA Surabaya, Stenvens H Lesawengen (kanan) bersama Sekretaris INSA , Agus Dwi.

SURABAYA – Dampak dari persoalan virus Corona (Covid 19) sangat pelik dirasakan semua pihak, khususnya di dunia pelayaran, anggota INSA betul-betul tertusuk hingga mengalami kesulitan mendapati stok kontainer internasional khususnya impor sangat menipis, pasalnya Cargo in – out di Surabaya tidak balance hingga mencapai 70 persen sehingga harus dilakukan reposition yang barang tentu akan membuat bengkak biaya oprasional pelayaran. Hal itu diungkapkan Ketua DPC INSA Surabaya, Stenvens Handry Lesawengen kepada awak, Selasa (17/3/2020).

“Kalau impornya turun, otomatis kita menunggu reposition dari luar, dan itu berdampak pada freight. Jadi karena tidak ada kontainer maka kita datangkan dari luar negeri sehingga akan muncul biaya yang ditanggung konsumen, Itu kenyataan yang terjadi di sini,” ujarnya didampingi Sekretaris INSA Agus Dwi di kantor INSA Surabaya, Selasa (17/3/2020).

Stenvens mengaku, kondisi yang terjadi bahwa importasi turun dampak dari adanya corona hingga 60 persen, khususnya komoditi plastik sampai 65 persen. Hal itu akan mempengaruhi kondisi jika kalau mau melakukan ekspor kita kekurangan kontainer sehingga yang dilakukan harus reposition kontainer dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan untuk ekspor karena saat ini kita kekurangan kontainer hingga 70 persen.

“Jadi bisa saja situasi ini berdampak berbalik dari yang tadinya kita surplus kontainernya kita kurangan karena importasinya berkurang jauh, ini kita sangat tergantung pada kesiapan kontainer. Ini akan dirasakan sampai dua bulan kedepan,’ jelas Stenvens.

Baca Juga  48 Armada Kapal Bawa DLU Melaju 48 Tahun Layani Masyarakat

Menurut Stenvens, itu akan berdampak pada penurunan lifting performa, kenapa demikian karena cargo in-out pada ekspor-impor dari dan ke Surabaya itu hampir 70 persen dari China. Jadi bisa dibayangkan kalau cargo itu dari China dan memang kita sangat tergantung maka sudah pasti ada penurunan.

“Hari-hari ini boleh lihat lah, mulai dari dua minggu yang lalu sampai hari ini penurunannya itu bisa kita lihat . Nanti bisa kita minta dari TPS dan Teluk Lamong karena mereka lebih valid saya belum punya agar kita bisa tahu penurunan daripada lifting performa cargo in-out yang ada di Surabaya,” tandasnya.

Bahkan, lanjut Stenvens, berkaitan dengan corona ini bisa saja akan terjadi emty yang ada di depo kontainer akan menumpuk di terminal sehingga akan kita minta kebijakan dari pihak Pelindo III terkait free storage beberapa hari kedepan meski sudah ada, dan juga lolonya take of discon juga kalau bisa, mungkin akan sampai ke container handling charges (CHC). Terkait dengan persoalan virus ini biasa saja di ‘cas’ atau (surcharge) tambahan biaya muncul dengan istilah ” Corona Charge “.

“Kalau mungkin sampai ke CHC ini agak berat bagi Pelindo III, itu yang saya rasakan akibat adanya corona ini. Tapi kalau ini sudah menjadi isu nasional gak ada masalah bagi Pelindo mempertimbangkan,” katanya.

Baca Juga  Garap Voyage Surabaya-Donggala-Balikpapan Bersama KM Dharma Kencana V, DLU Permudah Akses Logistik Ke IKN

Pihaknya juga menegaskan menolak adanya lockdown. Karena hasil koordinasi dengan KKP tidak ditemukan alasan yang mendukung lockdown.

“Sejak ada Corona sudah ada 200 kapal asing masuk Tanjung Perak dan tidak ditemukan adanya indikasi yang mengarah ke Corona. Jadi jelas kami menolak lockdown,” tegas Stenvens.

Senada, Sekretaris INSA Agus Dwi di kantor INSA Surabaya, sejak virus corona ini dihembuskan di Wuhan, ada 10 kapal yang sudah tidak masuk lagi ke China diantaranya milik pelayaran Yan Ming, Masland, Cosco, CMA sehingga mereka masuk ke Indonesia itu dengan cargo apa adanya di luar produk yang ada di China karena antisipasi atas virus tersebut, dan ini sangat berdampak.

“Memang kita alami kekurangan kontainer dengan adanya corona ini bahkan hingga 65-70 persen,” imbuhnya.

Sedang, kondisi nomal lifeting kontainer yang ada di Terminal Petikemas Surabaya (TPS) yang kurang lebih 1 juta an TEUs, impornya 600 dan ekspornya 400 jadi ada 200 Ribu TEUs yang harus di reposition ke luar. Kalau dia 1,2 Juta TEUs per tahun,  kurang lebih 700 TEUs yang impor, dan yang ekspor 500.

“Selalu perbedaannya diangka 200 sampai 250 Ribu TEUs, itu normalnya karena impor lebih gede dari pada ekspor. Yang terjadi ini berbalik karena impornya kebanyakan dari China kurang lebih sekitar 6o-70 persen,” ucapnya.

Baca Juga  BMTH Mampu Ciptakan Ekosistem Pariwisata dan Multiplier Effect Bagi Pertumbuhan Perekonomian

Sementara itu,Ketua DPD GINSI Jawa Timur, Romzi Abdullah  mengatakan, para importir yang tergabung dalam GINSI Jawa Timur menolak lockdown yang dimungkinkan akan dilakukan pemerintah sebagai upaya menangkal penyebaran virus Corona (Covid -19).

“Sangat tidak mungkin dan kami semua sepakat menolak jika ada kota kabupaten di Jawa Timur yang mau di-lockdown. Kegiatan industri pabrik berbeda dengan sekolah atau pariwisata yang bisa ditunda atau dikerjakan di rumah,” tuturnya.

Menurut Romzi, penghentian pasokan bahan baku pabrik sangat berisiko tinggi. Jutaan pekerja kasar akan menganggur dan berpotensi mengundang kerawanan sosial.

“Ekonomi bisa lumpuh,” akunya.

Sampai saat ini tambah pengusaha multi bisnis maritim ini, kegiatan di Pelabuhan Tanjung Perak relatif tetap lancar. Pihaknya memantau kegiatan bongkar barang impor di terminal internasional Jamrud Utara pada bulan Januari ada 20 kapal dan Pebruari 16 kapal. Romzi mengaku optimis kondisi kepanikan akibat virus Cirona akan segera pulih normal kembali.

“Kondisi di Cina sudah bisa diatasi. Kita optimis situasi ini akan segera berakhir,” pungkasnya. (RG/FL)

Titikomapost.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE