KETERGANTUNGAN IMPORTASI KOMPONEN KAPAL JADI FAKTOR UTAMA
TITIKOMAPOST.COM, SURABAYA – Belum meredanya ketegangan yang terjadi di luar negeri antara Amerika dengan Iran hingga saat ini cukup membuat warna galangan kapal di tanah air keruh. Pasalnya, kontrak pembangunan kapal baru maupun perbaikan yang sudah ditandatangani masih ada ketergantungan importasi komponen kapal dari luar yang itu sangat terdampak dengan adanya kenaikan krus valuta asing US maupun yang lainnya.
‘Jadi ini sangat mempengaruhi nilai keekonomian semua hasil-hasil produksi termasuk yang paling utama adalah bahan baku plat besi mengalami kenaikan 15-20 persen,” ungkap Ketua DPP Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia atau IPERINDO, Anita Puji Utami saat hadir menjadi nara sumber dalam Focus Group Discussion (FGD) dan Halal Bihalal IPERINDO Jawa Timur di Surabaya, Selasa (14/4/2026).

Anita mengaku bahwa kondisi yang terjadi saat ini sangat berdampak pada keberlangsungan dunia industri maritim tanah air khususnya galangan kapal, karena kebutuhan akan komponen untuk melakukan pembangunan kapal maupun reparasi yang berasal dari luar negeri terjadi kenaikan. Sehingga berpengaruh pada kontrak pengerjaan yang sedang berlangsung, untuk itu pihaknya sangat membutuhkan kebijakan dari pemerintah agar industri galangan kapal tetap dapat eksis.
Termasuk bahan baku plat yang mengalami kenaikan sampai dengan 15-20 persen, dan ini sangat berpengaruh pada tender-tender yang sudah terlanjur kita tandatangani. Selain itu dampak dari bahan bakar minyak atau BBM yang naik secara signifikan sangat berpengaruh terhadap biaya produksi.
“Kami mohon kebijakan dari pemerintah untuk bisa tetap membantu supaya industri galangan kapal ini bisa berkelanjutan bertahan dengan baik karena industri ini harus eksis di Indonesia karena reparasi kapal sifatnya wajib. Sedangkan pemakaian pemakaian BBM untuk penggunaan alat berat itu sangat berdampak,” seru Anita.
“Dengan adanya hal tersebut komponen yang lainya seperti cat maupun jasa dan sebagainya pasti mengalami kenaikan juga. Sehingga secara keseluruhan dari biaya jasa produksi maupun material itu juga akan berdampak cukup signifikan,” imbuhnya.
Anita menegaskan, kebijakan yang dimaksud dalam hal ini adalah berkaitan dengan BBM maupun Listrik itu diberikan harga khusus karena sebagian besar pemakaian dari energi kita menggunakan listrik maupun bahan bakar.
“Kami berharap BBM dan listrik diberikan kompensasi atau harga khusus supaya kami bisa tetap bertahan, dan juga bisa melayani industri sektor pelayaran ataupun supporting di logistik nasional khususnya di transportasi laut,” katanya.
Menurit Amita, dengan kondisi seperti sekarang ini bila pemerintah tidak segera turun tangan maka nasip industri galangan kapal beresiko akan mengalami kerugian yang berujung bila ekstrim gulung tikar.
” Resikonya galangan kapal akan mengalami kerugian sehingga terhadap kontrak yang sudah ditandatangani kita meminta kepada custemer kami untuk meninjau ulang dari isi kontrak yang ada apa eskalasi sifatnya atau kalau tender itu dengan pemerintah sangat dimohon dapat memberikan kebijakan terkait dengan eskalasi dengan adanya Force majeure.
Ditempat yang sama salah satu narasumber dalam FGD, Prof. Buana Ma’ruf dari BRIN mengatakan, terkait peningkatan daya saing galangan kapal Jatim harus bisa memperkuat Asosiasi yang sudah ada seperti IPERINDO sebagai wadah komunikasi dengan pihak perintah terkait kebijakan kebijakan yang pro dengan industri galangan kapal.
“Tidak mungkin bisa dilakukan sendiri-sendiri oleh galangan kapal bahkan Asosiasi tidak cukup, karena itu perlu infrastruktur yang barang tentu butuh dukungan dari pemerintah,” tuturnya.
Prof. Ma’ruf menegskan, industri galangan regional harus mampu menyuguhkan desain kapal sesuai kebutuhan yang mempunyai keunggulan dari yang sudah ada, sehingga calon user akan tertarik dan yakin untuk membangun kapal dengan galangan tersebut.
Sekarang ini lanjutnya, bagaimana para galangan menciptakan teknologi produksi yang lebih efisien untuk pembangunan kapal baru. Sedang untuk ripper bagaimana bisa menekan docking days yang tadinya semisal dia seminggu menjadi sepuluh hari. Tentu dengan cara mengidentifikasi ripperlistnya dari awal sebelum kapal sampai di galangan sudah diketahui. Sehingga saat kapal docking langsung dikerjakan.
“Bagaimana membatasi ripperlistnya jangan sampai ada pekerjaan tambahan sampai berlama-lama diatas dock,” katanya yang paham betul terkait hal itu karena berpengalaman sebelas tahun di galangan.
Prof Ma’ruf menambahkan, kalau pekerjaan baru bagaimana mensingkronisasikan pekerjaan lambung diintegrasikan Outfittingnya kapal yang merupakan tahap krusial pemasangan komponen non-struktur (pipa, mesin, akomodasi, elektrikal) ke dalam lambung kapal lebih awal jangan sampai ditaruh belakangan sehingga pekerjaan numpuk diakhir.
“Saya pernah kunjungan ke Jepang, halangan kapal kecil-kecil aja membangun Bulk Carrier 28.000 DWT atau kapal kargo khusus untuk mengangkut muatan curah padat kering 5 unit dalam satu tahun,” sebutnya mencontohkan kinerja galangan luar.
Dia mengakui bahwa industri galangan tanah air untuk segi kecepatan waktu pengerjaan bangunan kapal masih ketinggalan sama galangan luar.
“Padahal cuma satu Building berthnya (landasan peluncuran. red) dimana setiap dua bulan meluncur,” pungkasnya mencontohkan proses pembangunan kapal di Jepang. (RG)


























