GPI Gagas Dialog Kebangsaan Wujudkan Sumpah Peradaban

101
Ketua GPI H. Ahmad Zaini saat memberikan cendra mata kepada Menkopolhukam Mahfud MD, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Prof. Yudian Wahyudi, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (14/1/2023).

titikomapost.com, SURABAYA – Gerakan Peradapan Indonesia (GPI) menggelar Dialog Kebangsaan dengan tema ‘Pancasila Sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa’ yang digelar di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (14/1/2023).

Hadir Menkopolhukam Mahfud MD sebagai keynote speakers, dan sebagai narasumber dalam diskusi panel Dialog Kebangsaan ini selain Sri Sultan HB X, Dr. KH. Wahid Maktub dan Tokoh agama Wilayah Madura KH. Zawawi Imron. Turut hadir dalam forum, antara lain Istri Gubernur D.I.Y Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, Pangdam V/Brawijaya Mayjend TNI Farid Makruf, Wakapolda Jatim Brigjen Pol Slamet Hadi Supraptoyo.

Serta, Ketua Gerakan Peradaban Indonesia H. Ahmad Zaini, Rektor Unitomo sekaligus Ketua Pelaksana Dr. Siti Marwiyah, jajaran Deputi Menkopolhukam RI, pimpinan Pondok Pesantren di Jatim, serta beberapa Kepala OPD Pemprov Jatim.

Ketua GPI H. Ahmad Zaini mengatakan, gerakan peradapan Indonesia (GPI) merupakan organisasi sosial kemasyarakatan independen, yang beranggotakan tokoh-tokoh lintas agama, lintas suku dan ras serta lintas profesi dan lintas budaya. GPI berupaya memperkuat nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia dan sebagai pedoman hidup Rakyat Indonesia tidak terkikis oleh perkembangan jaman.

“Ketika peradapan menurun maka perlu di chas ulang atau rejuvinasi, dan bila peradapan itu sudah mulai luntur, kita harus mewarnai kembali. Untuk itu, gejala menurunya peradapan itu perlu adanya gerakan guna menguatkan kembali peradaban yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45,” ujar Zaini dalam sambutannya.

Zaini menyebut, dialog kebangsaan yang kita laksanakan pada hari ini merupakan rangkaian dari kegiatan sumpah peradapan yang akan dilakukan. Dengan sumpah peradapan ini diharapkan bisa mempersatukan dan menguatkan lagi peradapan bangsa yang tampak mulai menurun dan luntur.

“Membangun peradapan sebuah bangsa pada hakekatnya adalah pengembangan watak dan karakter manusia unggul dari sisi intelektual, spiritual, emosional dan fisik,” katanya.

Zaini melihat, adanya kemerosotan moralitas bangsa secara keseluruhan, dan diperparah lagi dengan adanya Covid-19 yang sempat merusak tatanan dan nilai-nilai hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu diperlukan semangat baru, menumbuhkan nilai-nilai baru, membangkitkan daya juang baru untuk mempertahankan eksistensi bangsa.

Sumpah peradapan itu bertujuan untuk menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keutuhan dan tegaknya pancasila. Menjaga dan mengawal Pancasila adalah jihad bagi seluruh bangsa Indonesia.

“Gerakan Peradapan Indonesia berkomitmen berjihad mengawal Pancasila,” tegas Zaini.

Menurut Zaini, dalam sejarah Indonesia dikenal dengan 2 sumpah besar, dimana pada zaman kerajaan Majapahit Patih Gajah Mada pernah bersumpah yaitu “Sumpah Palap” yang diucapkan guna membakar semangat bangsa Majapahit kala itu untuk meperluas wilayah kekuasaannya hingga mempersatukan Nusantara pada tahun 1336. Sedang sumpah yang kedua, yaitu “Sumpah Pemuda” yang disampaikan oleh pemuda Indonesia pada tahun 1928 berikrar Satu Tanah Air, Satu Bangsa dan Satu Bahasa.

Dari catat dua peristiwa besar dalam sejarah bangsa kita itu setidaknya ada peristiwa historis yang menandai terbentuknya Peradaban Indonesia, yaitu dari deklarasi Sumpah Palapa guna mewujudkan Nusantara dan Sumpah Pemuda untuk bersatunya pemuda Indonesia dalam mengusung Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Sungguh keduanya adalah peristiwa penentu eksistensi peradapan bangasa dan negara Indonesia,” tandasnya.

Sedang, sumpah peradapan itu sendiri, ada tiga poin penting yang diharapkan akan dicapai pada agenda pengucapan sumpah peradapan yang akan dilakukan nanti:

Pertama, mengetahui inti kiasan dan makna dari dua sumpah bersejarah sebelumnya (sumpah Palapa dan sumpah Pemuda) yang menjadi spirit dari eksistensi bangsa Indonesia.

Kedua, memetik semangat juang sumpah palapa dan sumpah pemuda untuk diterapkan di asa sekarang.

Ketiga, melalui sumpah peradapan maka seluruh komponen bangsa diajak untuk mewujudkan manusia Indonesia yang maju.

Berkarakter dan beradap, berbudipekerti dan berakhlak mulia itu semua adalah peradapan bangsa Indonesia dari nilai-nilai luhur Pancasila. Pancasila sebagai kalimatun sawa’, sebagai titik temu dari keberagaman Indonesia yang mempunyai lebih dari 16.766 pulau, sekitar 1.300 Suku, dan 700 lebih bahasa serta adat istiadatnya, sudah barang tentu harus kita jaga bersama keutuhannya. Karena Pancasila , adalah tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan pancasila harus menjadi pemersatu bangsa Indonesia sampai akhir hayat.

.Di tempat yang sama,Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan terima kasih atas terpilihnya Jawa Timur sebagai tuan rumah penyelenggaraan Dialog Kebangsaan kali ini. Secara khusus, dirinya menyebut acara ini sebagai booster nasionalisme.

“Terima kasih atas dipilihnya Gedung Negara Grahadi untuk membangun Dialog Kebangsaan. Ini adalah bentuk booster nasionalisme dan Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa. Dimana, kita akan mendengar banyak pikiran strategis yang memiliki makna kuat bagi kehidupan kebangsaan kita,” katanya.

Pantaslah kalau GPI mengagas memilih Jawa Timur menjadi tempat Dialog Kebangsaan. Dari data yang dirilis oleh Kementerian Agama RI telah merilis, Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) Jawa Timur pada tahun 2021 menembus angka 77,8 persen.

Capaian itu menempatkan Jatim sebagai provinsi dengan Indeks KUB tertinggi se-Pulau Jawa. Angka tersebut bahkan tercatat lebih tinggi dari capaian nasional yang berada pada angka 72,9 persen yang selanjutnya disusul posisi kedua ditempati Provinsi D.I Yogyakarta dengan 77,1 persen, Jawa Tengah 77 persen, Jawa Barat 72,7 persen, DKI Jakarta 72,2 persen dan Banten 69,6 persen.

“Kami bersyukur bahwa Indeks KUB Jatim pada 2021 berdasarkan data Kemenag RI 77,8 persen. Sedangkan nasional adalah 72,9 persen,” ungkap Gubernur Khofifah.

Selain itu, lanjut Khofifah, juga terdapat moderasi, saling tafahum dan toleransi di dalamnya. Meskipun ada perbedaan-perbedaan tetapi ada understanding diantara satu dengan lainya y ang dilanjutkan respect trust satu sama lain. Karenanya Mutual respect ini sangat dibutuhkan untuk bisa menjalin mutual trust atau kepercayaan satu sama lain.

“Oleh karena itu saya selalu pesan, Jatim tidak boleh batuk. Kalau sampai batuk, droppletnya bisa sampai ke Ibukota. Sehingga saling tafahum (memahami) antara satu dengan yang lain adalah bagian yang harus kita ihtiarkan bersama,” tegasnya.

Sementara itu Menkopolhukam Mahfud MD mengatakan, dari berbagai studi menyebutkan pada tahun 2023 ini akan terjadi itu perfect storm atau bencana ekonomi yang luar biasa. Yakni resesi ekonomi yang mengakibatkan inflasi dan deflasi di hampir semua negara di dunia.

“Bila Bangsa Indonesia tidak setangguh dan sekuat seperti masa perjuangan Tahun 1945, maka kita bisa ikut terkena imbasnya dari bencana ekonomi. Apalagi saat ini di International Monetary Fund (IMF) sudah ada 16 negara yang harus mendapat bantuan dana dan ada 30 negara lagi antre untuk mendapat bantuan. Artinya ini serius, kita akan berusaha agar tidak antre disitu,” katanya.

Dalam situasi ini, Mahfud menegaskan, Indonesia harus kembali ke Pancasila sebagai pemersatu bangsa. Jangan sampai warga bangsa saling mencari selamat sendiri-sendiri berdasar ikatan primordial masing-masing dan ingin saling mendominasi.

“Itu berbahaya sekali. Maka dari itulah perlunya kita bicara mengingatkan Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa,” tegasnya.

Di sisi lain, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Prof. Yudian Wahyudi mengatakan, generasi masa kini patut bersyukur bahwa Indonesia memiliki Founding Father atau pendiri dan proklamator Bangsa Indonesia seperti Bung Karno dan Bung Hatta yang meletakkan pilar dan ideologi bangsa yakni Pancasila.

“Kehebatan Pancasila adalah konsistensi seluruh masyarakat Indonesia dalam menjaga persatuan dan kesatuan. Pengorbanan dan keikhlasan para _founding father_ yakni proklamator Bung Karno dan Bung Hatta harus menjadi cambuk untuk menjaga NKRI hari ini hingga masa depan,” urainya.

Menurutnya, Pancasila dalam perspektif Islam adalah istijabah atau doa yang dilantunkan oleh para Nabi yang keberkahannya dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

“Lewat Ideologi Pancasila, Indonesia mampu menjaga harmoni, kerukunan, keamanan dan ketertiban diantara masyarakat yang membentang dan terpisahkan dari beribu pulau, suku dan agama,” tandasnya.

Sementara, hadir khusus sebagai narasumber pada diskusi panel Dialog Kebangsaan, Gubernur D.I.Y Sri Sultan Hamengkubuwono X menegaskan, dalam Pancasila terkandung Bhineka Tunggal Ika yang dijamin oleh konstitusi.

Untuk itu, ketika ada masalah perlu diingat bahwa sesama anak bangsa, harus saling menghargai karena kemajemukan itu sudah luluh dalam Kebhinekaan. Dirinya mengingatkan bahwa tantangan yang akan dihadapi bangsa Indonesia di masa depan sangat luar biasa. Sehingga, diperlukan pemimpin sekaligus generasi di masa depan bisa menatap tegas ke depan, tanpa menoleh ke belakang.

“Harapan saya jangan hanya mengatakan Bhinneka Tunggal Ika adalah lambang negara, tetapi harus kita aplikasikan menjadi strategi integrasi bangsa. Itulah pilihan kita untuk berbangsa dan bernegara,” tegas Mahfud MD. (RG/71/red)

Titikomapost.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE