Peliknya Muatan Balik Tol Laut Luas Line Klaim ‘No Problem’

121
Kapal Tol Laut KM Kandaga Nusantara 12 saat akan melakukan pelayaran perdana di tahun 2023 dari pelabuhan Tanjung Perak, Selasa (17/1/2023).

titikomapost.com, SURABAYA – Peliknya muatan balik dari daerah tujuan kapal-kapal Tol Laut masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah. Hal itu diakui oleh Ir. Andre Mulpyana Tenaga Ahli Menteri Perhubungan yang mengatakan bahwa hingga sekarang persoalan muatan balik kapal tol laut masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pemerintah, sehingga terobosan-terobosan dilakukan semaksimal mungkin agar potensi hasil bumi yang ada di daerah 3TP bisa dipasarkan ke Jawa.

Andre mengatakan, meski sejak tahun lalu pula semakin diperkuat kerjasama kolaborasi lintas lembaga dan juga pengusaha sebagai pengisi muatan kapal-kapal Tol Laut, namun kita masih harus kerja keras guna menumbuhkan peranan daerah untuk memanfatkan kapal tol laut dengan mengisi hasil bumi yang ada untuk dibawa ke Jawa. Apalagi pada tahun lalu pasca pandemi kemarin muatan balik masih rendah namun seiring waktu saat ini sudah mulai tumbuh.

“Sesuai semangat kolaborasi kususnya di Indonesia, dan global yang kebetulan juga pada waktu kemaring digadang-gadang dibahas di G20. Mudah-mudahan kolaborasi ini semakin kuat karena Tol Laut bukan hanya milik kementerian perhubungan maupun kementerian perdagangan, tetapi milik semua rakyat Indonesia,” kata Andre saat melepas bersam instansi terkait kapal Tol Laut KM Kandaga Nusantara 12 trayek T30 menuju Maluku di pelabuhan Tanjung Perak, Selasa (17/1/2023).

Menambahkan, Capt Pujo, Kepala Subdit 3 Angkutan Barang dan Tol Laut Direktorat Lalu Lintas Laut Ditjen Perhubungan Laut menjelaskan persoalan yang dihadapi dalam program Tol laut ini yaitu masalah muatan balik dari daerah. Untuk itu, diharapkan adanya dukungan dari pemerintah daerah terkait muatan balikya. Tak terkecuali bagi tryek T30.

“Kalau bisa seluruh kontainer yang ada disana, turun kontainer langsung bisa diisi muatan balik,” harapan pemerintah yang disampaikan Pujo.

Sedang, trayek T30 itu sendiri melayani dari Tanjung Perak- Pulau Obi – Piru – Bula – Larat – Teppa dan kembali lagi ke Surabaya. Untuk saat sekarang ada 16 TEUs ke pulau Obi, 19 TEUs ke Piru, 22 TEUs ke Bula, 7 TEUs ke Larat, dan total ada 54 kontainer yang diangkut oleh kapal Kandaga Nusantara 12.

Sementara, secara keseluruhan diakui Pujo, masih ada kekurangan untuk memenuhi kebutuhan yang diharapkan masyarakat khususnya Maluku baik kekurangan armada kapal dan kekurangan kontainer. Secara keseluruhan pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan tol laut dengan melakukan perubahan guna mengatasi itu yang salah satunya dengan pola hub dan spoke agar tetap dapat melayani ditengah keterbatasan demi mengikis disparitas harga.

“Jadi kta titip kontainer di kapal-kapal kontainer komerial seperti, Meratus, Temas yang dibawa kedaerah yang kemudian penyebaranya dilakukan kapal-kapal tol laut. Skema itu yang sekarang kita galakkan untuk mengatasi kendala di Tol laut,” jelasnya.

Seremoni pelepasan kapal Tol Laut KM Kandaga Nusantara 12 yang dioperatori PT Luas Line, Selasa (17/1/2023)

Namun, keprihatinan itu ditepis oleh opeeator kapal Tol Laut Nur Handayani mantan Direktur PT Luas Line yang saat ini memposisikan diri sebagai penasehat perusahaan mengklaim bahwa pihaknya telah menemukan cara untuk menjawab persoalan langkahnya muatan balik bagi kapal-kapal tol laut, khususnya di wilayah-wilayah trayek yang dipegangnya. Berbekal pengalaman yang sudah bertahun-tahun menggeluti lintasan pelayaran di wilayah Indonesia bagian Timur dengan 11 armada kapal yang dioprasikannya, pelayaran PT Luas Line bisa memboyong 60 sampai 70 persen muatan balik dari daerah. Baginya urusan muatan balik ‘No Problem’ karena masih aman-aman saja.

“Mungkin kalau buat orang lain ya, tapi bagi kami itu bukan persoalan karena kapal yang operasikan, Alhamdulillah bisa mendapat muatan balik hingga lebih dari 40 TEUs dari kapasitas kapal 57 TEUs,” ujar Nur Andayani Direktur PT Luas Line salah satu pemain pelayaran domestik.

Tapi, Ani sapaan Nur andayani mengaku, kemampuan tetap bertahan dalam menjalankan amanah yang diterimanya dari Kementerian Perhubungan dengan mengoperasikan dua kapal Tol Laut meski tantangan terbesarnya seperti diakui oleh pemerintah bahwa muatan balik menuju Jawa dikatakan masih minim, diawal memang itu tak ditampiknya. Namun dengan strategi pasar yang digunakan hal itu dapat terbayar dengan mahal dengan menikmati dalam setiap kapalnya balik ke pangkalannya di Surabaya mampu memboyong muatan dari daerah.

“Bagi kami itu tantangan yang harus dihadapi, namun dengan kesungguhan dan strategi bisnis yang kami jalankan dapat melalui itu semua. Sederhana saja, kami bekerja keras mencari market dan mendatangi pedagang untuk bisa mengisi muatan balik kapal,” akunya.

Paling tidak, Ani menambahkan, kita harus banyak tahu lapangan selalu komunikasi supaya kapal tersebut bisa bermanfaat secara maksimal. Jadi kita harus tahu arah semua berapa pulau yang menjadi tujuan trayek kapal tol laut, seperti trayek T30 ini ke 5 pulau.

“Jadi mana-mana lima pelabuhan itu kita harus tahu pedagang-pedangnya untuk diinformasikan ke mereka (pedagang.red) supaya muat dengan kapal kita,” tandasnya.

Berbekal pengalaman yang sudah puluhan tahun bergelut di pelayaran domestik jadi kita banyak tahu baik relasi pedagang-pedagangnya maupun pola musim dari setiap daerah yang disinggahi kapal tol laut itu hasil buminya apa yang berpotensi menjadi muatan balik kapal yang dioperatorinya.

“Maaf, karena kita dari pelayaran lama tahu oh… pulau sana hasil buminya ini, dari pulau ini hasil buminya ini gitu.Alhamdulilah bagi kami tidak jadi masalah,” imbuh Ani.

Ani juga menyadari bahwa pihaknya merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah berkomitmen berusaha terbaik untuk pemerintah. bagaimana caranya kita yang sudah difasilitasi pemerintah bisa mengoperasikan kapal tol laut ini bermanfaat bagi masyarakat.

“Bagaimana kapal ini bisa benar-benar bermanfaat bagi saudara-saudara kita khususnya yang berada di daerah 3TP,” harapannya.

Lain halnya dengan Tol laut yang melayani khusus untuk kapal penumpang, Ani merasakan kerap menemui kendala disetiap tripnya. hal itu lebih dipersoalan kepatuhan masyarakat yang masih rendah dalam melihat faktor keselamatan pelayaran dengan tak mempertimbangkan kapasityas angkut kapal.

“Kendalanya, disana itu penumpangnya agak susah. Umpama penumpangnya harusnya sekian gitu tidak mau kalau kapal mau berang harus naik-naik gitu,” pungkasnya. (RG)

Titikomapost.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE